Oleh Al-Ustadz DRS. A. Subki Saiman, MA & Dr. (cand) H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.(Peneliti Ahli Lembaga Kajian Strategis Al-Maqhasid Syariah)(Arrahmah.com) - Perang melalui pena, perang pemikiran kami yakini bagian dari Jihad fi Sabilill Sehubungandengan ada 5 tema atau mosi debat pada Ujian Tengah Semester yang saya nilai kurang menarik dan sebagian ada yang menang kasusnya maka dengan ini saya menggantikan 5 tema atau mosi yang lama dengan 5 tema yang baru, yang mana 5 tema baru ini merupakan kebijakan kebijakan yang diambil oleh pemerintah kita sehingga melahirkan pro dan kontranya masing - masing. adapun berlakunya 5 tema Pembahasan: Adapun solusi yang dapat dilakukan apabila Asta Ideologi lemah di Indonesia: Penghayatan agama dan kepercayaan menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab secara rukun dan saling menghormati antar- agama. Sikap tenggang rasa dan berani membela kebenaran dan keadilan. Kesadaran berbangsa dan bernegara, serta rela berkorban demi AyuBaitin Ningrum, Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak punya pendapat sendiri tentang ideologi bangsa di era millenial. Jumat, 25 Februari 2022 Cari Denganini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama eeGvP7d. › Dimensi ideologi dan sosial budaya menjadi yang terlemah di antara sejumlah dimensi dalam Indeks Ketahanan Nasional 2020 hasil kajian Lembaga Ketahanan Nasional. Ini menjawab banyaknya anak muda terlibat terorisme. KOMPAS/RENY SRI AYU Petugas keamanan berjaga di sekitar Gereja Katedral, Makassar, Minggu 28/3/2021 seusai peristiwa bom bunuh KOMPAS - Ketahanan ideologi dan sosial budaya yang lemah, terlebih diperburuk pandemi Covid-19, ditengarai turut memicu banyaknya anak muda yang berpikir radikal, bahkan berani melakukan aksi teror, seperti dalam peristiwa bom bunuh diri di Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu lalu. Perlu ada penguatan kohesi sosial untuk mengatasi problem Wakil Presiden Ma’ruf Amin menekankan pentingnya keterlibatan seluruh komponen untuk mencegah terorisme. Dimensi ideologi dan sosial budaya menjadi yang terlemah di antara sejumlah dimensi dalam Indeks Ketahanan Nasional 2020 hasil kajian Lembaga Ketahanan Nasional Lemhannas.Tenaga profesional Lemhannas, Dadan Umar Daihani, saat dihubungi pada Selasa 30/3/2021, mengatakan, tanpa pandemi Covid-19, gatra ideologi dan sosial budaya ada di tingkat yang rendah. Saat pandemi melanda, ketidakpatuhan dan intoleransi meningkat serta rasionalitas menurun dengan didukung media juga Pandemi Pengaruhi Ketahanan Nasional”Kohesi sosial kita sedang menurun karena faksionalisasi dari elite dan banyak kelompok yang tidak puas. Hal ini tidak langsung meledak, tetapi ada prakondisi, rasa frustrasi yang terus dikomporin,” kondisi itu, lanjut Dadan, muncul pandangan yang lebih menitikberatkan pada keyakinan daripada fakta. Ini ditengarai berkembang di kalangan anak muda, seperti mereka yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Katedral Makassar. Kedua pelaku bom bunuh diri berusia di bawah 30 mengatasi problem ketahanan ideologi dan sosial budaya itu, hal-hal negatif atau ancaman yang ditimbulkan pandemi hendaknya diubah menjadi peluang. Semisal untuk penguatan kohesi sosial masyarakat, mereka yang berkecukupan diharapkan menolong yang Wakil Presiden Ma’ruf Amin di sela-sela kunjungan kerjanya di Barito Utara, Kalimantan Tengah, Selasa, menjelaskan, tindakan kontraterorisme terus diupayakan pemerintah. Begitu pula deradikalisasi. Namun, sel-sel teroris masih saja ada. ”Karena itu, masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat harus membantu, baik dengan memberikan pemahaman, mengawasi, maupun mencegah kemungkinan terjadinya radikalisme,” WAPRES Wakil Presiden Ma\'ruf Amin memberikan sambutan secara virtual dalam acara Milad ke-43 Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin 22/2/2021. Sementara itu, peneliti dan pengajar antropologi di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Al Chaidar berpandangan,bom bunuh diri keluarga familial suicide bombing seperti di Makassar adalah khas kelompok Jamaah Ansharut Daulah JAD di Indonesia. Aksi teror tersebut dinilai sebagai sinkretisme yang dilakukan ulama dengan pemahaman kekerasan di sisi lain, secara antropologis, keluarga muda pelaku aksi bom bunuh diri adalah orang muda yang sedang mencari solusi dalam persoalan teologi yang mereka hadapi. Perubahan dunia dan lingkungan di sekitarnya yang cepat membuat pemahaman keagamaan mereka terdistorsi dan tidak memberikan jawaban yang memuaskan."Ulama-ulama organik kekerasan datang dan memberikan jawaban-jawaban yang instan dengan interpretasi yang keras dan sebenarnya tidak diindoktrinasi secara interaktif dalam suatu pengajian yangdiasuh oleh ustad dari jaringan JAD," kata Al itu, anak muda terlibat terorisme juga bisa karena kekecewaan mereka terhadap situasi di sekitarnya, baik dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Ketika mereka merasa tidak berguna bagi lingkungan sekitarnya, mereka berpikir bahwa dengan aksi yang dilakukannya, mereka akan berguna baik bagi dirinya maupun juga Terorisme yang Bermain di Dua KakiTiga orang ditangkapTerkait peristiwa bom bunuh diri di Katedral Makassar, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi kembali menangkap tiga tersangka teroris. Ketiganya perempuan, yaitu MM, M, dan MAN. Sebelumnya, polisi menangkap empat tersangka sehingga total tujuh orang pertama berinisial MM disebut mengetahui secara persis rencana aksi yang akan dilakukan pelaku bom bunuh diri, yakni L dan YSF, bahkan ia ditengarai memotivasi pasangan yang baru menikah perempuan berinisial M yang merupakan kakak ipar dari SAS, terduga teroris yang ditangkap sebelumnya. M disebut mengetahui SAS mengikuti kajian di Villa Mutiara. Adapun terduga yang ketiga adalah MAN. Dia disebut menjadi orang yang melihat L saat terakhir mengendarai motor menuju lokasi rencana bom bunuh diri. MAN juga tahu SAS mengikuti kajian di Villa Mutiara."Terkait dengan tersangka teroris yang telah diamankan di Makassar, mereka merupakan kelompok atau terafiliasi langsung dengan jaringan JAD Jamaah Ansharut Daulah yang sama persis pos atau markas mereka di Villa Mutiara yang ditangkap pada tanggal 6 januari 2021 lalu," ujar SRI AYU Seorang warga melintas di depan rumah kontrakan yang ditempati Lukman, salah satu terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, di Makassar, Sulsel, Senin 29/3/2021. Sedangkan 4 orang tersangka yang telah ditangkap sebelumnya memiliki peran yang berbeda. Untuk tersangka AS alias Eka alias AR adalah orang yang ikut serta merencanakan aksi bom bunuh diri tersebut. Dia juga ikut dalam kelompok kajian di Villa Mutiara dan melakukan baiat di pula SAS yang juga mengetahui secara persis rencana L dan YSF. SAS juga mengikuti kajian di Villa Mutiara. Adapun tersangka R alias M ikut melakukan survei ke lokasi bersama L dan YSF. Dengan demikian, titik aksi teror tersebut telah ditentukan adalah AN alias Andre. Dia adalah orang yang mengikuti perencanaan aksi tersebut. Dia juga mengikuti kajian di Villa Mutiara dan melakukan baiat kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pimpinan Negara Islam di Irak dan Suriah NIIS/ISIS.Jaringan JakartaAdapun mengenai jaringan teroris Jakarta yang diungkap pada Senin, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus menyatakan, penyidik belum menemukan keterkaitan antara jaringan teroris itu dan peristiwa bom bunuh diri di GALUH BIMANTARA Polisi memeriksa dan menggeledah tempat tinggal terduga teroris di Jalan Raya Cikarang-Cibarusah, Desa Sukasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Senin 29/3/2021.Selain menyita barang bukti bom dan bahan bakunya yang cukup banyak dari jaringan teroris Jakarta, polisi menemukan pula kartu anggota salah satu ormas yang telah dinyatakan terlarang. Nama yang tertera di kartu anggota itu adalah HH, salah satu terduga teroris yang ditangkap. Di kartu anggota itu ditulis jabatan HH adalah wakil ketua bidang jihad pada dewan pimpinan cabang di Kecamatan Kramatjati, Jakarta juga Terorisme Tak Surut Saat PandemiKepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan Komisaris Besar E Zulpan menyatakan, Polri menjamin keamanan umat Kristiani dalam merayakan rangkaian ibadah Paskah, akhir pekan ini. ”Masyarakat tak perlu panik dan takut,” dia, Kepala Polda Sulsel Inspektur Jenderal Merdisyam telah menginstruksikan jajarannya untuk meningkatkan pengamanan. NAD/INA/JOG/OKA EditorAntonius Ponco Anggoro Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa FPKB, Yanuar, menilai, tragedi bom Thamrin membuktikan Indonesia masih menghadapi krisis ideologi. Saat ini, menurutnya, Pancasila masih hanya dijadikan sebagai ideologi simbolik tanpa makna yang kuat di masyarakat. Kejadian bom Thamrin mestinya menyadarkan semua pihak bahwa proses penanaman ideologi Pancasila belum tuntas dan nyaris diabaikan "Proses penanaman ideologi Pancasila di era reformasi ini sudah tidak lagi diajarkan kepada generasi muda di semua lapisan masyarakat," kata Yanuar, Rabu 20/1 di Jakarta. Ketua DPP PKB tersebut juga menyayangkan semakin sedikitnya orang yang bicara tentang Pancasila dan sedikit menggunakan pancasila sebagai sudut pandang yang berakhir pada krisis kepemimpinan. "Pemimpin saat ini jarang menggunakan Pancasila dalam landasan setiap kebijakan dan justru terkesan menghindar. Ini tanda negara kita sudah krisis kepemimpinan," ujarnya. Dirinya melihat pemimpin yang sejogyanya melakukan penanaman Pancasila malah membuat Pancasila itu sendiri tidak sakti dan ideologi mandul. Jadi, ia melihat sudah saatnya menghidupkan kembali ideologi nasional pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Ini masalah serius di Indonesia, dilihat dari akibat tersebut maka ideologi kita mandul dan tidak sakti lagi," ujar Yanuar. Dirinya menyarankan perlu segera ditetapkan UU tentang pemasyarakatan Pancasila bahwa penanaman nilai-nilai Pancasila harus dilakukan pelbagai lapisan masyarakat di sektor dan berbagai kesempatan. "Pemerintah dan DPR harus duduk bersama dan menetapkan uu Pemasyarakatan dan Penanaman Nilai-nilai Pancasila. Jika perlu ada lembaga khusus yang memikirkan soal pemasyarakatan dan penyebarluasan Pancasila di Indonesia," katanya. Kepada aparat TNI dan Polri juga diberikan kewenangan tindakan hukum yang berkaitan dengan individu dan ormas yang secara nyata memiliki ajaran konsep, ide dan tindakan secara sadar dan sengaja bertujuan mengganti Pancasila. Sumber Suara Pembaruan Saksikan live streaming program-program BTV di sini Zulhas Indonesia Punya Kesempatan Jadi Negara Maju NASIONAL Yenny Wahid Pancasila Ikatan Suci yang Menyatukan Indonesia NASIONAL Kongres XII GAMKI Indonesia Hadapi Berbagai Ancaman karena Perubahan Global NASIONAL Pemulihan Ekonomi Pascapandemi, Indonesia Perkuat Kelembagaan ASEAN EKONOMI Hadapi Lebanon, Indonesia Turunkan Sejumlah Pemain Minim Pengalaman SPORT Terkait Isu Myanmar, Indonesia Lakukan Pendekatan dengan Berbagai Pihak INTERNASIONAL Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Benarkah ketahanan ideologi Indonesia berada dalam kondisi rapuh? Setidaknya demikian yang bisa kita tangkap dalam pernyataan Lembaga Pertahanan Nasional lemhanas beberapa waktu ini. Jika menilik beberapa pemberitaan berkaitan dengan ketahanan ideologi, akan banyak dijumpai pernyataan senada bahwa ketahanan ideologi sedang dalam kondisi mengkhawatirkan. Dalam rentang 2014-2015 ada 12 provinsi yang mengalami pelemahan ketahanan ideologi, bahkan dari 34 provinsi di Indonesia, hanya terdapat 5 provinsi yang berada dalam klasifikasi cukup tangguh berdasarkan survei yang dilakukan oleh The Fund for bicara jauh tentang ketahanan ideologi di kalangan generasi muda, kita akan mulai terlebih dahulu dengan pemahaman mengenai ketahanan ideologi. Ketahanan ideologi adalah kondisi mental bangsa Indonesia berlandaskan keyakinan terhadap kebenaran ideologi Pancasila yang memiliki kemampuan menggalang persatuan dan kesatuan nasional. Dalam hal ini, bangsa Indonesia meyakini bahwa Pancasila merupakan ideologi yang dapat menyatukan berbagai perbedaan suku, agama, ras dan budaya yang telah ada di bumi nusantara, demi kepentingan bersama untuk mewujudkan cita-cita nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tangguh artinya tahan terhadap ancaman. Jika tangguh dilekatkan pada sikap mental manusia, maknanya ia tidak mudah menyerah menghadapi berbagai rintangan. Dalam konteks berbangsa, ketahanan ideologi ini seyogianya dicerminkan oleh sikap kolektif warga negara yang menghayati dan mengamalkan Pancasila. Kembali pada sikap mental, maka ketahanan ideologi inipun bisa melemah karena adanya pengikisan nilai ideologi dalam masyarakat. Oleh karena itu perlu upaya untuk membangkitkan kembali gagasan tentang pentingnya pengamalan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Layaknya seseorang yang menurun semangatnya ketika berhadapan dengan masalah yang melahirkan pesimisme, mereka yang tangguh memiliki resiliensi yang tinggi. Dengan demikian, ketahanan ideologi dapat dimaknai sebagai resiliensi suatu ideologi bertahan menghadapi pergulatan dinamika sosial politik ekonomi untuk tetap hidup dan menjadi gagasan utama yang menjiwai seluruh tatanan kehidupan warga bangsanya. Tentu saja untuk terus hidup, ideologi negara perlu terus dipelihara, dilestarikan, diwariskan generasi masa kini agar diwarisi generasi mendatang. Negara ini akan tetap berdiri tegak sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia jika generasi mudanya memegang teguh ideologi yang telah diwariskan pendiri bangsa. Menilik UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, definisi pemuda dibatasi pada mereka yang berusia 16 hingga 30 tahun, namun generasi muda memiliki jangkauan spektrum definisi yang lebih lebar. Dari aspek program pembinaan misalnya, generasi muda adalah bagian penduduk yang berusia 0 - 30 tahun. Dipandang dari kematangan psikologis, usia 30 - 40 tahun dianggap sebagai masa transisi kedewasaan pemuda menuju tingkat kematangan pribadi. Sedangkan secara ideologis-politis, generasi muda adalah mereka yang akan menggantikan generasi pendahulu sebuah organisasi, atau kepemimpinan dalam masyarakat, yang berusia 18 - 30 tahun, bahkan hingga 40 tahun. Oleh karena itu, nasib suatu bangsa, baik dan buruknya negara ini kelak, sangat ditentukan oleh karakter generasi mudanya, oleh nasionalisme dan patriotisme yang mereka miliki untuk membangun negerinya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta daya saing mereka dengan bangsa-bangsa lain di di usia yang prima, generasi muda memiliki produktivitas yang tinggi, aktif serta memiliki idealisme yang tinggi. Idealisme adalah keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide maupun cara ini mendorong kaum muda tertarik pada nilai-nilai ideal, tentang kehidupan bermasyarakat, penegakan hukum, keadilan termasuk kehidupan beragama. Daya tarik nilai ideal ini membawa tuntutan implementasi norma-norma ideal tersebut dalam hidup bermasyarakat, dan bernegara. Hal ini berimplikasi pada munculnya gerakan-gerakan pemuda untuk mewujudkan konsep ideal itu. Seorang tokoh nasional, Tan Malaka pernah berkata, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda". Idealisme tentang cita-cita bangsa Indonesia yang berdaulat bebas dari kolonialisme menjadi bahan bakar yang menggerakkan para pemuda berjuang, dalam pergerakan-pergerakan nasional menempuh risiko apapun mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Di masa pasca reformasi, dengan kebebasan berserikat dan mengekspresikan pendapat yang lebih luas, idealisme pemuda muncul dalam berbagai bentuk yang lebih beragam. Mereka bersedia mengambil inisiatif dan terobosan berani, memotong rantai birokrasi dan prosedur berbelit, hingga lahir gerakan-gerakan swadaya yang dipelopori para pemuda. Sebut saja kisah Gamal Albinsaid, seorang dokter muda yang menggerakan warga binaannya untuk mengelola sampah, yang kemudian hasil pemilahan sampah dihargai senilai nominal tertentu agar dapat digunakan untuk membiayai contoh idealisme generasi muda yang dijiwai keingingan mengabdi, melestarikan budaya, meningkatkan derajat pendidikan dan kesejahteraan masyarakatnya, bahkan rela melepas kenyamanan privilege yang sudah dinikmati sebagai kalangan sukses dengan jabatan pekerjaan dan penghasilan yang tinggi. Inilah idealisme pemuda yang tentu selaras dengan nilai luhur Pancasila yang diilhami Kemanusiaan yang adil dan beradab. Menjadi pendidik di daerah terpencil, menjadi tenaga medis, pelestari mangrove di daerah pantai yang memberdayakan masyarakat, adalah sebagian contoh yang kita saksikan. Dorongan untuk memanusiakan sesama manusia yang rendah akses kesehatan, pendidikan dan pembiayaan oleh perbankan konvensional, dan sisi lain, idealisme mendorong sikap kritis generasi muda terhadap penyimpangan nilai-nilai ideal yang semestinya hadir di tengah masyarakat. Nilai itu antara lain, penegakan hukum, kemakmuran yang merata, keadilan sosial, pemimpin yang jujur, ketertiban bermasyarakat dan sebagainya. Sementara Pancasila, yang dinyanyikan anak-anak Sekolah Dasar, Garuda Pancasila, lalu diberikan dalam mata pelajaran PPKn hingga perguruan tinggi berupa mata kuliah wajib Pendidikan Pancasila, terasa hanya sebatas ideologi bisu. Sebagian generasi muda beranggapan bahwa Pancasila tidak hadir di tengah berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Dan golongan ini tertarik untuk menemukan alternatif solusi all in one package pada ideologi lain. 1 2 Lihat Lyfe Selengkapnya

solusi apabila asta ideologi lemah di indonesia